Rabu, 28 Juli 2021

                         Tumbuhnya Secerca Mentari dari Pelosok Timur

 



Menggapai mimpi tidak salah

Mencapai mentari kebahagiaan perlu dilakukan

Demi terciptanya kesuksesan dimasa depan

Namun perlu adanya kebaikan

Kepada siapapun dan dimanapun

Dengan orang lain

Supaya saat kamu mendapatkan sebuah kesulitan akan ada

orang yang membantu ditengah musibah yang kamu alami saat itu

 Mereka yang terlihat difoto ini kita diperlihatkan indahnya negeri ini, Sang Pencipta membuat keberagaman ditanah air yang dikatakan makmur .Namun, nyatanyaa banyak sekali yang mengalami kesusahan. Meskipun saya belum pernah ke tanah timur melihat berita ditanah mereka banyak yang kekurangan sandang pangan serta air bersih ikut merasakan kesedihan serta rasa empati terhadap situasi yang ada di pulau timur tersebut.Banyak yang memberikan berita bahwa didaerah sana banyak sekali perang antar suku setlah mengetahui dari salah satu narasumber yang pernah kedaerah sana bahwa mereka menyambut dengan baik,ramah serta saling sapa meskipun baru kenal.Saya berpikir bahwa suku apapun itu sekalipun semua tergantung dari kita sendiri selalu berbuat baik,bagaimana kita menghargai mereka dengan memberikan tegur sapa , berperilaku sopan kepada sesama, berempati kepada lingkungan sekitar. Mendengar cerita dari orang yang pernah kesana saya tersentuh untuk melihat secara langsung situasi di daerah timur.


Dari gambar diatas salah satu relawan yang datang langsung di lokasi yang berada didaerah timur.Perlu adanya sebuah perhatian lebih terhadap saudara kita yang masih dilanda kekurangan.Bahkan yang saya ketahui dari beberapa narasumber yang sudah pernah kesana mulai air bersih, makanan maupun pakaian disana dikatakan kurang meskipun sudah ada bantuan dari pemerintah setempat. Didaerah timur juga akses dari internet maupun sinyal buat telepon biasa dikatakan sulit bahkan sedikit tempat yang terdapat sinyal dan memiliki sebuah alat buat komunikasi dengan keluarga maupun saudara. Dalam pengetahuan di kepulauan timur cenderung rendah dikarenakan salah satu factor yaitu dari fasilitas pendidikan yang disediakan disekolah bahkan sekarang dikarenakan ada wabah Covid-19 yang berjalan menuju ke 2 tahun berada di bumi terutama dinegara Indonesia saya melihatnya ikut prihatin serta merasa sedih dengan melihat situasi di pelosok timur.


Penggambaran diatas menunjukan meskipun berbeda suku,ras dan agama tetap tumbuhkan keakraban serta keharmonisan antar masyarakat di negeri ini.Kasus yang sering timbul dan pernah saya dengar yaitu pencemaran ras kulit hitam yang sering dialami oleh masyarakat timur yang membuat masyarakat timur merasa tidak dihargai berada di salah satu masyarakat yang ada di negeri ini.Dalam hal ini bisa menjadi salah satu perpecahan dalam negeri ini jika masih ada meskipun sedikit kasus seperti ini sehingga mengurangi rasa empati terhadap masyarakat timur yang masih dalam keadaan sulit di daerahnya.



Dari vidio diatas menunjukan akses jalan untuk aktivitas warga sekitar dangat memprihatinkan.Kesulitan ini belum bisa teratasi dengan baik dengan masih banyak jalan meskipun bukan jalan utama akan tetapi jika melalui jalan lain akan lama sampai ke lokasi. Namun , tetap harus dilalui oleh masyarakat sekitar supaya bisa memenuhi nafkah keluarga serta kebutuhan lain.Namun mereka masih bisa semangat mencari rejeki tanpa kelihatan sekalipun kelihatan capek dan mengeluh terhadap kondisi yang mereka hadapi sekarang.

Berikut salah satu mata pencaharian yang ditekuni oleh masyarakat di pelosok timur.Mereka senantiasa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga supaya keluarga bisa terpenuhi sandang,pangan maupun papannya.Dikatakan penghasilan di pelosok timur tidak terlalu tinggi.Berdasarkan data hingga ke wilayah pedesaan, pedalaman maupun perkampungan masuk pada kategori yang sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita tahun 2005 (tanpa konsentrat) di Papua yang hanya senilai Rp. 6,67 juta dan apabila dibagi rata dengan banyaknya jumlah penduduk, hanya menghasilkan pendapatan sekitar Rp. 500 ribu per orang per bulannya.



Selama lebih dari satu dekade, Indonesia telah mencoba memperbaiki sistem pendidikannya dengan mengalokasikan 20% dari APBN untuk bidang pendidikan. Terdapat 62 juta siswa dan 3,5 juta guru dan dosen. Sayangnya, angka fantastis itu gagal menjamin distribusi dan kualitas yang merata di seluruh nusantara.

Sistem pendidikan di Indonesia bagian Barat secara umum lebih baik dari Indonesia bagian Timur, seperti Papua. Di Indonesia Timur, masih banyak anak-anak yang tidak memiliki akses ke sekolah yang baik. Dalam pendidikan pengarahan ataupun pengajaran dikatakan sudah bagus dan bisa dicerna dengan baik oleh para siswa.

Salah satu tokoh pengjar pendidikan yang sukarela membantu mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan di Pelosok Timur yaitu Mbak Ratih. Perempuan 23 tahun ini langsung memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai corporate secretary legal officer di GCMednovation, sebuah lembaga pendidikan di Jakarta. Bahkan, Ratih mengambil cuti kuliah S2 Kenotariatan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ratih memilih bergabung dengan Indonesia Mengajar untuk menjadi tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil di Indonesia. “Akibat saya memutuskan menjadi pengajar muda, beasiswa S2 saya dicabut oleh perusahaan lama.

Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, menempatkan Ratih selama setahun di daerah tersebut. Desember ini adalah bulan keenam dia menjadi guru di Adaut. “Sejak mendengar cerita teman, saya kepikiran terus soal pendidikan anak-anak di desa tertinggal. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk ikut,” ujar pengajar muda angkatan kedua Indonesia Mengajar ini. Indonesia Mengajar yang lahir tahun 2010 lalu memiliki misi ganda. Pertama, mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah yang membutuhkan. Kedua, menjadi wahana belajar kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik Indonesia agar tak semata memiliki kompetensi kelas dunia, tetapi juga pemahaman akan pentingnya sebuah mimpi bagi generasi muda untuk diwujudkan demi terciptanya bangsa Indonesia yang bisa bersaing dalam semua aspek dengan bangsa lain jika pendidikan bisa tertata baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan



Pemprov Papua saat ini telah menerapkan program kinerja berbasis e-government, dengan demikian dapat mengevaluasi seluruh sistem yang telah dilaksanakan," kata Lukas Enembe, dalam keterangannya, Sabtu (6/5).

Selama ini, diakui, hampir sebagian besar masyarakat Papua sangat menginginkan perbaikan pelayanan publik baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Salah satunya dengan dorongan untuk meningkatkan sumber daya manusia sebagai pengelolanya.

Menurut Lukas, kebiasaan dan karakter lama yang selama ini diterapkan dalam pemerintahan juga harus diubah. Pasalnya kini pemerintah juga dituntut menerapkan sistem teknologi dalam tata kelola pemerintahan. "Kami harus mengubah karakter, kembalikan pada sistem teknologi dan informasi pemerintahan sehingga pelayanan publik dapat terlayani, baik kepada masyarakat maupun dunia usaha," ujarnya.

Diakui, selama pelaksanaan otonomi daerah berjalan, sudah banyak perubahan yang terjadi di Papua. Kondisi tersebut terjadi karena pemerintah pusat telah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah. jelaskan, sejak tahun 2016 melalui pendampingan KPK, Provinsi Papua melakukan upaya pencegahan korupsi, mulai dari perencanaan, pengadaan barang dan jasa serta perijinan. Komitmen ini menghasilkan tim kerja yang disebut Gugus Tugas (Task Force) Reformasi Anggaran Papua (SiAP) dan Pengelolaan Sumber Daya.

“Task force ini sebelumnya telah menindaklanjuti dan menyelesaikan seluruh rekomendasi dan rencana aksi, dengan pengembangan aplikasi e-Government Terintegrasi Provinsi Papua yang dimulai dari pengembangan e-planning dan e-budgeting (e-PPR dan e-PPA),sebagai aplikasi utama dalam pengembangan e-government terintegrasi serta e-samsat dan e-perijinan.” katanya. 

Sementara hasil dari pembuatan aplikasi ini, melahirkan integrasi E-planing dan e-budgeting (e-PPR dan e-PPA) yang mana dalam proses perencanaan dan penganggaran daerah, telah hadir dokumen perencanaan dan penganggaran yaitu RKPD dan APBD tahun 2018 dan 2019.

Hal itu menjadi sejarah bagi provinsi Papua karena pertama kalinya dapat mengintegrasikan proses perencanaan dan penganggaran daerah sampai dengan pengadaan barang dan jasa melalui sistem elektronik.

“Bahkan, implermentasi e-Planning dan e-Budgeting ini telah diapresiasi oleh KPK dan tahun 2019 ini Provinsi Papua terpilih sebagai salah satu dari 7 Provinsi pilot project integrasi e-PapuaPuRencana dengan e-Planning SIPD Kementerian Dalam Negeri,” jelasnya.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Persahabatan yang Berakhir Tragis

Dulu kita selalu bersama-sama, menghabiskan waktu bersama. Kita selalu lupa waktu jika sedang bersama. Kadang itu yang membuat Ibuku tak su...