Minggu, 22 Agustus 2021

Kenikmatan Kehidupan

 Dalam shalat kita memanjatkan doa kepada Allah. “Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yakni, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat.” (QS al-Fatihah [1]: 6-7).

Siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat itu? Allah SWT mempertegasnya dalam surah an-Nisa’ ayat 69, yakni an-nabiyyin(para nabi), ashshiddiqin( orang-orang yang benar dan jujur), asy-syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan ash-shalihin(orang-orang saleh).

Tentu saja, kenikmatan yang mereka peroleh tidak pada bendawi, tapi nikmat iman dan Islam. Itulah nikmat yang paling tinggi nilainya. Nikmat yang menjadikan segala nikmat duniawi menjadi berharga dan maslahat. Jika tanpa nikmat iman dan Islam, semuanya bisa menjadi malapetaka yang menjerumuskan.

Sungguh nikmat Allah SWT begitu banyak tak terhingga. Sekiranya kita menghitung, tak sanggup menghitungnya. Karena itulah, Allah SWT tak menyuruh kita menghitung, tapi bersyukur. (QS [2]: 152,172, [31]: 12). Kenyataannya, sedikit sekali manusia yang bersyukur. (QS [7]: 10, [14]: 34, [23]: 78, [67]: 23). “Lalu nikmat Tuhanmu mana lagi yang kaudustakan?” Sebanyak 31 kali diulang dalam surah ar-Rahman.

Ada tiga kategori kenikmatan yang sekaligus menjadi tingkatan yang ingin diraih manusia. Pertama, kenikmatan fisik. Kategori ini paling rendah dan menjadi kebutuhan dasar manusia ( basic needs). Kenikmatan fisik (material) berhubungan dengan jasmaniah, yakni makan dan minum (termasuk buang hajat), harta, tidur, dan seks. Tidak jauh dari sejengkal dari pusar ke atas (perut) dan ke bawah (kemaluan).

Kedua, kenikmatan sosial. Kalau manusia meraih nikmat fisik, berarti dia telah memperoleh kelezatan dunia wi (lazaat) yang sifatnya individual. Tapi, dia belum meraih kebahagian ( assa’adah). Sebenarnya, binatang juga tidak bisa hidup tenang hanya dengan fisik belaka. Mereka membutuhkan keluarga dan komunitas (sosial). Demikian pula manusia. Nikmat sekali hidup seorang yang masih punya istri/suami, orang tua, anak, anggota keluarga, sahabat, dan tetangga yang baik. Jika tak bertemu, rasa rindu tak terkira. Keletihan dan penderitan sepanjang mudik pada Hari Lebaran terabaikan.

Ketiga, kenikmatan spiritual. Ketika seseorang memiliki harta, kedudukan, sehat, rumah yang indah, kendaraan yang bagus, istri dan anak yang saleh, peduli pada tetangga dan kaum dhuafa, serta mustadh‘afin. Masya Allah, nikmat sekali hidupnya. Tapi, kedua kenikmatan tersebut masih nisbi dan bisa hilang tak berbekas dalam sekejap. Kedua kenikmatan itu akan lebih bermakna lagi jika kita meraih kenikmatan spiritual.

Kenikmatan spiritual bersifat ruhaniah (ilahiah) yang didapat ketika seseorang berhasil membersihkan hati, pikiran, dan perbuatannya dari segala macam keburukan (QS [91]: 9-10). Sehingga, cahaya ilahi merasuk ke dalam kalbu, pikiran, dan perbuatan.

Dia akan merasakan nikmat menjalani keadaan apa pun. Musibah bukan lagi derita, melainkan jalan bahagia. Tidak hanya merasa nikmat ketika lapang, tetapi dalam derita dan perjuangan. Wallahu a’lam.

Sisa Hidup yang Berharga

 

Sebagai manusia,pernahkah anda terpikir sampai kapan umur ini diberi jatah hidup oleh Allah SWT? Atau karena takut mati, tidak berani memikirkannya? Umur manusia adalah perkara ghaib dan merupakan rahasia Allah SWT. Tak seorangpun tahu berapa panjang usia yang dijatahkan untuknya.

    Meski Umur termasuk perkara ghaib, beberapa ulama besar Islam,mencoba membahasnya. Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, misalnya, mengkaji masalah umur melalui karyanya, Sabilul'Iddikar wal I'tibar bima Yamurru bil-Insan wa Yanqadhi lahu minal-A'mar (Jalan Menuju Peringatan dan Perenungan tentang Tahapan Usia yang Dilalui Manusia). Beliau membagi umur dalam lima tahapan,yaitu :
Pertama, sejak Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dan membekalinya dengan keturunan.
Kedua, terhitung sejak seorang manusia terlahir dari rahim ibunya hingga ajal menjemput.
Ketiga, dimulai sejak kebangkitan manusia dari alam dunia melalui kematian sampai bertiupnya sangkakala Malaikat Israfil di Padang Mahsyar. Umur ketiga adalah masa penantian seseorang di alam barzakh.
Keempat, berlangsung sejak seorang manusia dibangkitkan dari alam barzakh, bersamaan dengan ditiupnya sangkakala yang kedua hingga manusia melangkah di atas shirath al-mustaqim.
Kelima, dimulai sejak seseorang memasuki pintu surga, atau terjatuh di jurang neraka.

        Usia umat Nabi Muhammad SAW tidaklah sepanjang usia umat-umat terdahulu. Dalam sebuah hadist disebutkan, usia mereka umumnya antara 60 sampai 70 tahun. Rasulullah SAW pernah mengadukan pendeknya usia umat beliau itu kepada Allah SWT. Dengan penuh kasih, Allah SWT menjelaskan, meski usia umat Islam lebih pendek dari umat lain, Allah SWT telah menganugrahkan banyak keutamaan. Diantaranya diturunkannya Lailatul Qadar, disetiap Bulan Ramadhan, malam yang nilainya lebih dari seribu bulan.
    Masa muda dan masa dewasa merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia. Mengenai pentingnya masa muda, seorang bijak mengatakan, "Jika engkau tak bisa meraih kemuliaan di hari mudamu, tak akan mulia hidupnya sampai tua".Yang sangat penting diingat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban tengtang umur yang dianugrahkan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, "Tak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang masa mudanya, dipergunakan untuk apa; tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apakah sudah diamalkan". (HR At-Tarmidzi).

    Dalam Islam, usia 40 tahun dianggap sebagai usia yang istimewa. Ia dipandang sebagai tonggak awal kemapanan seseorang. Rasulullah SAW pun diangkat sebagai Nabi oleh Allah SWT pada usia 40 tahun. Bagi kaum sufi, usia 40 tahun dianggap sebagai pintu gerbang menuju Allah SWT. Seorang sufi besar, Syaikh Abdul Wahhab bin Ahmad Asy-Sya'rani, dalam kitab Bahrul Maurud, menulis, "Telah diambil perjanjian dari kita, apabila umur telah mencapai 40 tahun, hendaklah bersiap-siap melipat kasur dan selalu ingat pada setiap tarik nafas, bahwa kita sedang berjalan menuju akhirat, sampai tak merasa tenang lagi rasanya hidup di dunia". Yang dimaksud dengan "melipat kasur" ialah mengurangi tidur untuk memperbanyak ibadah.
Setelah melampaui fase kedewasaan, kaum muslimin memasuki fase persiapan menghadapi kematian, yakni pada usia 60 sampai 70 tahun. Sabda Rasulullah SAW, "Masa penuaan umur umatku dari 60 hingga 70 tahun". (HR Muslim dan An-Nasa-i).
Oleh karena itu , amat sangat keterlaluan orang-orang yang sudah berusia diatas 60 tahun tapi masih juga melakukan maksiat. Sabda Rasulullah SAW, "Allah SWT tidak akan menerima dalih seseorang sesudah Dia memanjangkan usianya hingga 60 tahun". (HR Al-Bukhari).
    Usia lanjut juga merupakan sebuah keistimewaan. Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW menyampaikan firman Allah SWT, "Demi kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, dan kebutuhan hamba-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu menyiksa hamba-Ku, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah beruban karena tua dalam keadaan muslim". Dalam hadits lain beliau bersabda, "Sebaik-baik diantara kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya". (HR At-Tarmidzi).
    Namun Al-Quran juga berulang kali memperingatkan akan datangnya ketuaan dan kepikunan. Misalnya dalam surah An-Nahl ayat 70, disebutkan, "Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan diantara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah, supaya tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa".
Kepikunan yang mengiringi ketuaan itulah yang ditakuti oleh Rasulullah SAW, sehingga beliau selalu berdo'a, "Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang paling hina".
    Sejak zaman Rasulullah SAW sampai kini, ada orang-orang yang dianugrahi Allah SWT umur panjang dari orang-orang pada umumnya. Dan mereka mengisinya dengan berbagai kebaikan, sehingga hidup mereka penuh berkah dan tercatat dalam sejarah. Mereka inilah yang dimaksud dalam hadits Nabi, "Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya". Disamping itu ada pula orang-orang yang usianya pendek tapi juga sangat berarti, karena dipenuhi berbagai amal yang diridhai Allah SWT. Mereka yang tergolong dalam kelompok ini pun namanya terabadikan dalam sejarah, dan senantiasa dikenang orang.

    Diantara para sahabat Nabi yang dianugrahi usia panjang adalah Anas bin Malik, salah seorang sahabat utama, perawi hadits terkenal, dan pelayan Rasulullah SAW.
Anas lahir pada tahun ke 10 sebelum HIjrah. Sejak kecil ia sudah memeluk Islam, dan terus melayani Rasulullah SAW sampai beliau wafat. Kurang lebih 10 tahun lamanya ia melayani Rasulullah SAW, yaitu selama beliau menetap di Madinah. Ibunya yang mula pertama membawanya menghadap Rasulullah SAW agar dapat melayani beliau. Anas bangga menyandang predikat "pelayan Rasulullah", karena kedudukan itu memang suatu kemuliaan. Beliau adalah sahabat yang terbanyak memiliki anak,berkat do'a Nabi SAW. Suatu ketika ibunya memohon agar Rasulullah SAW mendo'akannya. Maka beliaupun mendo'akan Anas, "Ya Allah, berilah rizqi anak dan harta kepadanya, dan berkahilah dia". Dalam redaksi yang lain, do'a beliau sebagai berikut, "Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, dan masukkanlah ia ke dalam surga".
    Anas RA adalah sahabat yang terakhir wafat di Basrah. Menurut riwayat yang paling kuat, beliau wafat pada tahun 93 H/711 M dalam usia 103 tahun. Wafat setelah menjalani kehidupan penuh perjuangan. Beliau kaya dengan ilmu, dan sarat dengan amal. Di saat ajal hendak menjemput, Beliau berkata, "Talqinkanlah aku dengan ucapan La ilaha illallah". Dan kalimat tauhid itu terus diucapkannya hingga ruh berpisah dari jasadnya.

    Ada pula tokoh yang usianya tidak panjang tetapi penuh dengan keberkahan dan kehidupannya tetap dikenang orang dari zaman ke zaman. Salah satunya adalah Umar bin Abdul Aziz, yang pada tahun 99 H/717 M terpilih sebagai khalifah menggantikan Khalifah Sulaiman. Ketika itu usiannya 37 tahun. Ia dipandang sebagai khalifah paling adil dan paling sederhana di antara semua khalifah Bani Umayyah.

    Umar Bin Abdul Aziz juga menghentikan segala bentuk kemewahan para mantan khalifah, dan sebaliknya menghidupkan pengajian Al-Quran dan Sunnah. Beliau juga melarang pengawal dan rakyat berdiri menghormatinya. Ketika orang-orang berdiri menghormatinya, ia berkata, "Jika kalian berdiri, kita semua berdiri, jika kalian duduk , kita semua duduk. Sepatutnyalah manusia hanya berdiri menyembah Allah, Tuhan sekalian alam. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan hal-hal fardhu dan menyunahkan hal-hal sunnah. Barang siapa mengambilnya, bertemulah dia dengan-Nya; dan barang siapa meninggalkannya, binasalah dia".

    Para salaf shalih yang berumur panjang dalam keadaaan ibadah dan taat kepada Allah menganjurkan para pemuda untuk memanfaatkan masa muda mereka, "Pergunakanlah masa muda kalian sebelum kalian menjadi seperti kami saat ini". Maksud mereka, di usia yang tua renta nan lemah tidak dapat melakukan banyak amal shalih padahal di usia mereka yang demikian mereka telah mendahului para pemuda dalam berlomba-lomba menuju jalan Allah dan bersungguh-sungguh dalam mentaati-Nya.
Usia yang panjang dalam beribadah kepada Allah memang sangat diinginkan dan terpuji. Nabi SAW bersabda,"Janganlah seorang di antara kalian menginginkan kematian. Kalau ia memang orang baik, semoga ia mendapat tambahan; kalau ia pendosa, semoga ia dapat bertaubat".
    Demikianlah, hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita bahwa bukan usia panjang yang terpenting, melainkan keberkahan usia. Keberkahan ditandai dengan bagusnya amal ibadah dan akhlaq serta karya yang bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Semoga Allah SWT selalu memberi petunjuk pada kita agar memanfaatkan umur dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

Cinta dari Setangkai Mawar

 Kita tahu bahwa dalam keterlambat dan hujan keburu turun, diapun meminta maaf pada kekasihnya yang terlihat cemberut. Hari itu mereka berencana makan malam berdua, persis seperti yang diinginkan si wanita di film-film yang ditontonnya.

Wanita itu lupa, bahwa romantisme bukan sekedar meniru adegan di film saja, yang terkadang justru tidak nyata. Ia juga lupa, bahwa sebenarnya romantis itu datang dari berbagai cara, seperti yang dibawa oleh kekasihnya.

"Aku membawakanmu bunga ini," sodor si pria. Ia tetap membisu dan memasang wajah tak suka.

Akhirnya ia menerima 12 tangkai mawar yang masih basah karena tersiram air hujan. Iapun kaget, "kenapa ada satu mawar plastik di sini? kamu nggak rela ngasih aku bunga mawar?" kemarahannya memuncak lagi.

Masih dengan sabar, si pria menjawabnya, "aku memang sengaja membawa 11 mawar segar dan setangkai mawar plastik. Bagiku, aku akan mencintaimu hingga si mawar plastik itu mati..."

Merasa bersalah karena ledakan kemarahannya, si wanita menangis berurai air mata dan memeluk kekasihnya. "Maafkan aku, aku sudah berpikiran jelek padamu..."

11 tangkai bunga mawar segar itu memang cantik seperti di film yang dilihatnya, tetapi setangkai mawar plastik yang dibawa kekasihnya itu melambangkan cinta yang abadi dan tak pernah mati.

See, romantisme itu tak hanya harus dipandang dari satu hal yang pernah dilakukan di film-film saja.

Minggu, 08 Agustus 2021

Menstabilkan Proses Hidup

 Menentukan prioritas antara pekerjaan dan kehidupan bukanlah perkara mudah. Namun yang perlu diperhatikan adalah sesibuk apapun Anda bekerja, harus tetap memikirkan kehidupan pribadi.

Jangan sampai kesibukan justru membuat Anda tidak memiliki waktu untuk diri Anda sendiri. Menyeimbangkan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi disebut dengan work-life balance.

Pentingnya menjaga keseimbangan hidup tak hanya untuk Anda yang bekerja untuk sebuah perusahaan. Pada kenyataannya kesibukan dalam bekerja jauh lebih dirasakan oleh mereka yang masih merintis usaha hingga mereka yang memiliki profesi sebagai freelancer atau pekerja lepas.

Mereka sering kali terjebak dengan manajemen waktu yang tak seimbang. Sehingga tidak bisa memisahkan mana kehidupan pribadi dan mana kehidupan pekerjaan. Lalu, bagaimana caranya agar hidup bisa seimbang? Berikut cara mudah yang bisa dilakukan
agar antara kehidupan pribadi dan pekerjaan seimbang

1. Miliki waktu untuk bersantai

Jangankan manusia, mesin pun butuh waktu sejenak untuk tidak digunakan beroperasi. Begitu juga dengan tubuh Anda, juga butuh yang namanya santai sejenak untuk memulihkan energi.

Tentu saja, baik mesin maupun tubuh kita, jika terlalu dipaksakan untuk terus melakukan pekerjaan, maka bukan tidak mungkin akibatnya sangat fatal. Jika sebuah mesin, mungkin akan rusak dan tak berfungsi lagi.

Begitu juga badan, bisa saja daya tahan tubuh terus melemah dan akhirnya jatuh sakit. Kalau sudah begitu, bukannya bisa cepat menyelesaikan pekerjaan dan menikmati hasilnya, tapi justru jatuh sakit dan banyak hal akan terbengkalai.

2. Lakukan yang terbaik, bukan terlalu perfeksionis

Salah satu penyebab work-life balance Anda tak terjaga dengan baik adalah kebiasaan perfeksionis. Sebenarnyaa menjadi seseorang dengan sifat perfeksionis bukanlah hal buruk karena berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan.

Melakukan sesuatu secara maksimal memang sudah jadi keharusan. Tapi bukan berarti secara berlebihan atau melakukan segala sesuatunya secara sempurna. Anda harus bisa memilah-milah apa yang harus dan tidak perlu dilakukan secara perfeksionis.

Mulailah untuk menjadi sosok yang mengerjakan sesuatu dengan baik tanpa harus membuatnya menjadi sesempurna mungkin. Sedikit kesalahan adalah sebuah hal yang wajar karena terkadang tidak semuanya akan selalu sesuai rencana.

Dengan mengurangi sifat perfeksionis, Anda pun dapat mencoba menjadi pribadi yang lebih berdamai dengan diri Anda sendiri tanpa terbebani hal-hal kecil yang sering kali menjadi masalah.

3. Tak perlu selalu siap sedia, sesekali beranilah mengatakan tidak

Alasan selanjutnya yang membuat work-life balance Anda menjadi terganggu adalah terlalu sulit mengatakan tidak pada orang lain. Imbasnya diri Anda sendiri justru kelelahan karena harus memenuhi semua keinginan orang lain.

Sebelum Anda menentukan jawaban atas permintaan teman atau orang lain, tetaplah ingat bahwa prioritas utama Anda adalah pekerjaan yang Anda miliki. Begitu juga sebaliknya, tidak semua pekerjaan itu bisa dibebankan pada Anda.

Tak perlu menjadi orang yang selalu siap sedia siapapun yang meminta, baik di lingkungan kerja maupun teman dan keluarga. Ada kalanya Anda harus bisa mengukur kesanggupan diri untuk melakukan sesuatu hal.

4. Hindari menunda pekerjaan dan tetap fokus

Kebiasaan selanjutnya yang dapat memengaruhi work-life balance adalah dengan selalu
menunda-nunda pekerjaan dan sering kali tidak fokus dengan apa yang dilakukan. Hal
tersebut dapat berakibat menumpuknya pekerjaan dan mengganggu waktu lain yang Anda miliki.

Terlebih jika Anda memiliki kebiasaan menyelesaikan pekerjaan di saat waktu-waktu terakhir yang akan berimbas pada risiko lebih fatal. Tentu saja Anda pun tak akan mendapatkan work-life balance.

Oleh karena itu selesaikan tugas di awal waktu, sehingga Anda memiliki waku yang cukup banyak guna menyelaraskan antara pekerjaan dan waktu untuk pribadi.

5. Hindari membawa pekerjaan ke rumah

Selanjutnya yang perlu Anda lakukan untuk menjaga work-life balance adalah dengan
menghindari membawa pekerjaan ke rumah. Jika Anda membawa pekerjaan ke rumah,
mengindikasikan bahwa Anda bekerja tidak secara efisien.

Namun jika Anda telah bekerja secara efisien dan pekerjaan selalu tidak selesai tepat waktu, hal tersebut pun dapat mengindikasikan bahwa pekerjaan yang diberikan melebihi kapasitas Anda.

Cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan memaksimalkan waktu yang Anda miliki di kantor dan menyelesaikan segala urusan yang berhubungan dengan pekerjaan di tempat kerja. Anda bisa menyampaikan kepada atasan bahwa apa yang telah ditugaskan ke Anda tidak sesuai alias melebihi kapasitas yang semestinya. Jadi, hindari membawa pekerjaan ke rumah yang dapat berakibat fatal pada keseimbangan hidup Anda.

6. Kurangi penggunaan gadget dan media sosial

Kemajuan teknologi informasi saat ini membuat waktu bekerja dan kehidupan pribadi
menjadi lebih cepat dan dinamis. Saat ini dengan menggunakan smartphone Anda bisa
mengirimkan email serta membalasnya saat itu juga.

Bahkan, saat ini dengan menggunakan aplikasi chat pun, membahas pekerjaan dapat
dilakukan kapan pun dan dimana pun Anda berada dengan mudah. Di lain sisi hal ini dapat memberikan dampak positif sekaligus negatif, karena bisa saja kehidupan pribadi Anda menjadi terganggu.

Kualitas tidur, waktu dengan keluarga, hingga hari libur Anda pun bukan lagi menjadi waktu untuk beristirahat, tapi justru menjadi waktu untuk tetap memantau pekerjaan. Oleh karena itu cobalah untuk mengurangi penggunaan gadget serta media sosial dan fokus dengan diri Anda serta keluarga.

 

7. Memahami pentingnya membatasi diri

Belajarlah untuk memahami pentingnya membatasi diri dengan cara yang sederhana.
Contohnya, membatasi waktu kerja yang sering kali overtime (lembur). Hal tersebut
diperburuk dengan dinamisme kehidupan kantor yang saat ini banyak memunculkan budaya pekerjaan baru yakni waktu yang lebih fleksibel.

Untuk mengatasinya, Anda hanya perlu mengatur waktu yang ada, sehingga jumlah jam kerja yang Anda keluarkan pun tak menyiksa diri sendiri. Jika Anda bekerja dari jam 9 pagi misalnya, cobalah untuk menentukan batasan jam berapa Anda harus sudah pulang, terkecuali memang sedang dihadapkan dengan project yang tidak dapat ditinggalkan.

Mulai sayangi diri dan katakan tidak untuk urusan yang tak penting

Mulailah menyayangi diri Anda sendiri dan jangan ragu mengatakan tidak untuk urusan yang lebih banyak merugikan waktu istirahat Anda. Bisa jadi saat ini Anda tak mudah lelah lantaran umur yang masih muda.

Tapi ingat, saat Anda sudah memasuki usia kepala tiga, Anda akan lebih mencari waktu untuk banyak istirahat lantaran badan lebih mudah lelah. Sayangi diri dengan menyeimbangkan hidup antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Bangkit dari Keterpurukan

 

 Bangkit dari Keterpurukan

 

Terkena situasi yang tidak baik memang bisa membuat emosi dan nggak mau berhadapan dengan situasi yang sama. Bahkan, kamu pun menghindari kalau ada tantangan yang serupa. Tujuannya agar nggak terkena sesuatu yang nggak enak. Begitu juga dengan orang, rasa percaya kamu akan menurun dan bisa berprasangka kurang bagus. Selain itu, kamu seperti punya dendam yang nggak tahu untuk siapa.

Situasi ini memang nggak sehat dan wajib kamu atasi. Menghindari pun juga akan membawa situasi yang membingungkan buat kamu. Kamu bisa cerita dengan orang terdekat dan terpercaya. Tapi, kamu harus menyelesaikan masalahnya

1. Bingkai Pengalaman Sulit

Semua Masalah Pasti Berlalu Kok, Begini Cara Bangkit Dari Keterpurukan

Merasa kecewa dan ingin melupakan masalah yang sedang kamu hadapi memang wajar. Seperti dijatuhkan oleh kehidupan membuatmu emosional. Langkah awal sebelum kamu bangkit dan menyelesaikan masalah adalah bingkai apa yang terjadi. Dalam proses ini jangan takut kalau kamu sedang menghadapi suatu masalah.

Kamu nggak gagal, hanya perlu mencoba lagi. Terkena komentar jahat dan kamu nggak salah, ceritakan dengan orang terdekat yang memahami. Dari sini kamu akan tahu, seperti apa karakter asli orang-orang sekitar.

2. Sayangi Diri Sendiri

Semua Masalah Pasti Berlalu Kok, Begini Cara Bangkit Dari Keterpurukan

Berada pada situasi dan masalah sulit bisa membuat kamu melakukan hal-hal yang mengecewakan. Ini karena emosi kamu masih mendominasi. Bisa juga menyalahkan diri sendiri. Hindari untuk berbuat ceroboh. Yakin pada diri sendiri kalau hal yang sebenarnya akan terungkap dan masalah bisa kamu selesaikan dengan baik.

Tanyakan kepada diri sendiri apa yang kamu butuhkan secara positif. Jangan pedulikan omongan menjatuhkan dari orang lain yang nggak kamu kenal. Terlalu terbawa emosi juga nggak baik untuk mengambil keputusan dan kesehatan.

3. Tetap Jalankan Tanggung Jawab

Semua Masalah Pasti Berlalu Kok, Begini Cara Bangkit Dari Keterpurukanunsplash.com/Roman Kraft

Mengalami sesuatu yang nggak enak memang bikin malas untuk beraktivitas. Ingin mengalihkan dengan kegiatan yang lain. Bahkan sampai  malas untuk bersosialisasi baik secara nyata maupun di media sosial. Bukan masalah kalau kamu ingin sendiri beberapa waktu sebagai pemulihan. Namun, jangan terlalu lama terlarut.

Selesaikan dengan cara menghadapi. Bukan menghindari, apalagi menyalahkan orang lain. Itu hanya membuang waktu kamu saja. Ada baiknya untuk menjalankan aktivitas dan pekerjaan seperti biasa daripada berdiam diri. Kamu nggak akan berkembang kalau berada dalam situasi yang sama.

4. Ambil Positifnya

Semua Masalah Pasti Berlalu Kok, Begini Cara Bangkit Dari Keterpurukanpexels.com/juan mendez

Mengalami hal yang buruk memang susah sekali untuk berpikir jernih dan positif. Nggak ada salahnya kamu ambil waktu. Kalau terkena komentar negatif di media sosial, kamu bisa hiatus untuk sementara. Tenangkan diri sebelum mengambil langkah selanjutnya. Jangan pedulikan dulu omongan orang lain, karena solusi terbaik datang dari diri sendiri.

Menjadi positif itu memang nggak mudah. Sebenarnya orang yang positif bukan bisa melihat hal yang baik saja. Melainkan dapat melihat sisi positif dari segala situasi, meskipun itu peristiwa buruk. Dengan begitu kamu akan fokus pada penyelesaian masalah. Punya pandangan yang positif dan bisa belajar dari pengalaman.

5. Siap untuk Bangkit Lagi

Semua Masalah Pasti Berlalu Kok, Begini Cara Bangkit Dari Keterpurukan

Kamu dihadapkan dua pilihan, ketika mengalami hal buruk. Antara berlarut dalam masalah tanpa solusi atau bangkit. Berdiri kembali dan menyelesaikan masalah bukan hal yang mudah tapi akan mendewasakan kamu. Kalau hal buruk yang kamu alami adalah kegagalan, setidaknya tahu kalau sudah pernah mencoba. Jika itu adalah komentar jahat, kamu bisa belajar untuk menyaring.

Yakin pada diri sendiri kalau kamu bisa dan kuat untuk menghadapi permasalahan. Jalan yang terjal luar biasa akan memberikan pengalaman tersendiri. Sebab, tidak semua orang punya pengalaman seperti kamu. Percaya kalau masih ada orang yang mendukung kamu.

Mengalami hal buruk dan menyebalkan, ada baiknya kamu selesaikan dengan cara elegan. Jika terjadi di media sosial, kamu bisa menonaktifkannya. Hal-hal seperti ini memang tidak bisa kamu kendalikan. Tapi, kamu bisa memutuskan seperti apa yang terbaik dan nggak merugikan orang lain. Asal nggak lari dari masalah. Jangan lupa relaksasi.

Kisah Persahabatan yang Berakhir Tragis

Dulu kita selalu bersama-sama, menghabiskan waktu bersama. Kita selalu lupa waktu jika sedang bersama. Kadang itu yang membuat Ibuku tak su...