Dalam shalat kita memanjatkan doa kepada Allah. “Ya Allah, tunjukkanlah
kami jalan yang lurus. Yakni, jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan
orang-orang yang sesat.” (QS al-Fatihah [1]: 6-7).
Siapakah
orang-orang yang telah diberi nikmat itu? Allah SWT mempertegasnya dalam
surah an-Nisa’ ayat 69, yakni an-nabiyyin(para nabi), ashshiddiqin(
orang-orang yang benar dan jujur), asy-syuhada (orang-orang yang mati
syahid), dan ash-shalihin(orang-orang saleh).
Tentu saja,
kenikmatan yang mereka peroleh tidak pada bendawi, tapi nikmat iman dan
Islam. Itulah nikmat yang paling tinggi nilainya. Nikmat yang menjadikan
segala nikmat duniawi menjadi berharga dan maslahat. Jika tanpa nikmat
iman dan Islam, semuanya bisa menjadi malapetaka yang menjerumuskan.
Sungguh
nikmat Allah SWT begitu banyak tak terhingga. Sekiranya kita
menghitung, tak sanggup menghitungnya. Karena itulah, Allah SWT tak
menyuruh kita menghitung, tapi bersyukur. (QS [2]: 152,172, [31]: 12).
Kenyataannya, sedikit sekali manusia yang
bersyukur. (QS [7]: 10, [14]: 34, [23]: 78, [67]: 23). “Lalu nikmat
Tuhanmu mana lagi yang kaudustakan?” Sebanyak 31 kali diulang dalam
surah ar-Rahman.
Ada tiga kategori kenikmatan yang
sekaligus menjadi tingkatan yang ingin diraih manusia. Pertama,
kenikmatan fisik. Kategori ini paling rendah dan menjadi kebutuhan dasar
manusia ( basic needs). Kenikmatan fisik (material) berhubungan dengan
jasmaniah, yakni makan dan minum (termasuk buang hajat), harta, tidur,
dan seks. Tidak jauh dari sejengkal dari pusar ke atas (perut) dan ke
bawah (kemaluan).
Kedua, kenikmatan sosial. Kalau manusia meraih
nikmat fisik, berarti dia telah memperoleh kelezatan dunia wi (lazaat)
yang sifatnya individual. Tapi, dia belum meraih kebahagian (
assa’adah). Sebenarnya, binatang juga tidak bisa hidup tenang hanya
dengan fisik belaka. Mereka membutuhkan keluarga dan komunitas (sosial).
Demikian pula manusia. Nikmat sekali hidup seorang yang masih punya
istri/suami, orang tua, anak, anggota keluarga, sahabat, dan tetangga
yang baik. Jika tak bertemu, rasa rindu tak terkira. Keletihan dan
penderitan sepanjang mudik pada Hari Lebaran terabaikan.
Ketiga,
kenikmatan spiritual. Ketika seseorang memiliki harta, kedudukan,
sehat, rumah yang indah, kendaraan yang bagus, istri dan anak yang
saleh, peduli pada tetangga dan kaum dhuafa, serta mustadh‘afin. Masya
Allah, nikmat sekali hidupnya. Tapi, kedua kenikmatan tersebut masih
nisbi dan bisa hilang tak berbekas dalam sekejap. Kedua kenikmatan itu
akan lebih bermakna lagi jika kita meraih kenikmatan spiritual.
Kenikmatan
spiritual bersifat ruhaniah (ilahiah) yang didapat ketika seseorang
berhasil membersihkan hati, pikiran, dan perbuatannya dari segala macam
keburukan (QS [91]: 9-10). Sehingga, cahaya ilahi merasuk ke dalam
kalbu, pikiran, dan perbuatan.
Dia akan merasakan nikmat
menjalani keadaan apa pun. Musibah bukan lagi derita, melainkan jalan
bahagia. Tidak hanya merasa nikmat ketika lapang, tetapi dalam derita
dan perjuangan. Wallahu a’lam.
Minggu, 22 Agustus 2021
Kenikmatan Kehidupan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kisah Persahabatan yang Berakhir Tragis
Dulu kita selalu bersama-sama, menghabiskan waktu bersama. Kita selalu lupa waktu jika sedang bersama. Kadang itu yang membuat Ibuku tak su...
-
Dulu kita selalu bersama-sama, menghabiskan waktu bersama. Kita selalu lupa waktu jika sedang bersama. Kadang itu yang membuat Ibuku tak su...
-
Berikut ini saya postingkan Modul ini disusun sedemikian rupa, mulai dari materi dan rumus-rumus singkat matematika SMA , l...
-
LISTRIK MATI Dening : E.J.Sahputri Babak 1 PLN niyate nglayani masyarakat apa malah ngrusak bandha elektronike rakyat?Wong dibayar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar